child education

A child, who has been over protected and habitually given whatever he or she  wanted, would develop the entitlement mentality and would always put himself first. He would be ignorant of his parent’s efforts. When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others. This kind of person, may be good academically and may be successful for a while, but eventually would not feel a sense of achievement. He will grumble and be full of hatred and fight for more.
If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?*

You can let your kid live in a big house, eat  good meals, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let him experience it. After a meal, let him wash his plates and bowls together with his brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love him in the right way. You want him to understand, no matter how rich his parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young man . The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.

dapat dari Milis, boleh disebarkan

Posted in tulisan | Leave a comment

Good to pass this on to your children

This is a powerful message in our modern society. We seemed to have lost our bearings & our sense of direction.

One, young, academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.

He passed the first interview. The director who did the last interview, made the last decision.

The director discovered from the CV that the youth’s academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research. He never had a year when he did not score.

The director asked, “Did you obtain any scholarships in school?” The youth answered “none”.

The director asked, ” Was it your father who paid for your school fees?” The youth answered, “My father passed away when I was one year old. It was my mother who paid for my school fees.”

The director asked, ” Where did your mother work?” The youth answered, “My mother worked as a clothes cleaner. The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

The director asked, ” Have you ever helped your mother wash the clothes before?” The youth answered, “Never, my mother always wanted me to study and read more books. Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.”

The director said, “I have a request. When you go back today, go and clean your mother’s hands and then see me tomorrow morning.”

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange,  but with mixed feelings, she showed her hands to her son.

The youth cleaned his mother’s hands slowly. His tears fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother’s hands were so wrinkled and that there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.

This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes every day to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother’s hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.

After finishing the cleaning of his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.

That night, mother and son talked for a very long time.

Next morning, the youth went to the director’s office.

The Director noticed the tears in the youth’s eyes and asked, ” Can you tell me what  you did and learned yesterday in your house?”

The youth answered, ” I cleaned my mother’s hands, and also finished cleaning all the remaining clothes.’

The Director asked, ” Please tell me your feelings.”

The youth said, Number 1, I know now the meaning of appreciation. Without my mother, there would not be the successful me today. Number 2, by working together and helping my mother, only now I realize how difficult and tough it is to get something done. Number 3, I have come to appreciate the importance and value of family relationship.

The director said, ” This is what I am looking for in my new  manager.
I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. Son,you are hired.”

Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company’s performance improved tremendously.

(dapet dari milis.. boleh disebarkan….)

Posted in renungan | Leave a comment

Pembangunan Indonesia berwawasan Lingkungan

Akhir-akhir ini sering kali terdengar perbincangan mengenai isu-isu global. Mulai dari pemanasan global, deforesterisasi, bencana alam, dan perubahan iklim. Perbincangan seperti ini mungkin belum banyak terdengar pada tahun 70an-80an. Ada beberapa penyebab ramainya isu global yang baru saat ini (dua sampai tiga dekade terakhir) muncul. Selain adanya kesadaran manusia akan lingkungan yang semakin rusak, media merupakan faktor utama yang berperan meyebarkan propaganda isu-isu global.

Hadirnya media-media (barat) yang dengan gencarnya menjejalkan informasi-informasi terkait isu-isu global, contohnya perubahan iklim (climate change) berhasil menyadarkan jutaan manusia untuk sadar akan kerusakan yang ditimbulkan terhadap lingkungan mereka. Mayoritas manusia abad ini menyambut baik informasi-informasi tersebut. Memang saat ini dirasakan seolah-olah terjadi perubahan iklim yang sangat drastis. Masyarakat awam pun telah mengakui isu tersebut (isu iklim). Dilapangan terdengar keluhan-keluhan petani yang bingung dengan musim tanam, musim hujan dan kemarau yang tidak sesuai jadwal, bencana alam silih berganti, semakin menguatkan  keyakinan akan perubahan iklim yang terjadi. Kemudian berangsur-angsur manusia memulai aksi untuk mengurangi polusi, membatasi penggunaan bahan bakar minyak, menanam pohon disana-sini, melarang penebangan hutan, dan yang paling kontroversial adalah Carbon trading. Dapat dikatakan bahwa dramatisasi isu perubahan iklim oleh media (khususnya barat)  berhasil.

Mengapa dikatakan dramatisasi?, karena setelah dikaji ulang oleh ahli-ahli dibidang cuaca sebenarnya perubahan iklim yang terjadi dibumi tidak sedramatis yang diberitakan media. Ada sesuatu yang janggal, isu global pertama kali dicetuskan oleh barat (eropa dan AS) padahal mereka adalah penyumbang terbesar emisi karbon di atmosfer bumi, karena rata-rata Negara eropa adalah Negara industri. Dari sinilah muncul ide carbon trading. Dengan carbon trading, Negara-negara industri maju membayar sejumlah uang kepada negara-negara yang memiliki potensi alam untuk melestarikannya. Sejumlah uang tersebut juga sebagai konsekuensi emisi yang mereka keluarkan.

Kebijakan carbon trading sangat sarat kepentingan. Bagaimana tidak, dengan hanya kompensasi uang, negara-negara industri tetap  seenaknya mengeruk kekayaan alam dan mengotori lingkungan serta tidak membiarkan negara-negara berkembang membangun industry besar dengan membatasi pemanfaatan alamnya. Seolah-olah barat dengan egois memajukan dirinya dan melarang negara lain untuk sama majunya seperti mereka. Untuk itu perlu dikritisi setiap kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan yang dating dari barat. Khususnya Indonesiaperlu mengkritisi hal tersebut.

Saat  ini mayoritas kebijakan peletarian alam meliputi konservasi hutan, pembukaan lahan, pembuatan taman nasional dan yang lainnya masih mengacu pada barat. Ini perlu dievaluasi karena belum tentu sesuai dengan kebutuhan nasional. Contoh yang baik adalah negara Jepang. Di jepang tidak dikenal istilah taman nasional. Mereka sama sekali tidak mengacu pada barat mengenai kebijakan pelestarian lingkungan. Mereka sangat percaya diri dengan cara mereka. Indonesia perlu mencontohnya. Di Indonesia terkenal istilah local wisdom atau kearifan lokal.  Solusi yang ditawarkan untuk pelestarian alam di Indonesia agar terhindar dari kepentinga kapitalis barat adalah dengan menggunakan kearifan lokal. Memang saat ini kearifan lokal belum dipercaya secara ilmiah. Maka harus ada kajian ilmiah terhadap kearifan local disetiap daerah sehingga dapat dibuat secara sistematis sehingga dapa dipercaya oleh semua kalangan.

hasil dialog tokoh dengan Dr. Arif  Satria. Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB

Posted in tulisan | Leave a comment

Demokrasi dan Dunia Islam

Dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 139-142 dikisahkan bahwa kaum muslimin menderita kekalahan ketika perang Uhud. Hal ini menjadi pukulan berat bagi kaum muslimin. Kekalahan ini memiliki maksud yang sangat mulia. Dengan kekalahan ini, Allah menguji keimanan kaum muslimin apakah mereka tetap di jalan Allah atau justru ingkar. Terbukti setelah peperangan, tampak terlihat diantara kaum muslimin mana yang tetap teguh dan mana yang hanya ikut-ikutan masuk islam yang dikenal dengan istilah kaum munafikun. Di akhir ayat 142, Allah mengutakarakan bahwa kejayaan dan kekalahan akan selalu dipergilirkan diantara manusia.

Berbicara mengenai kejayaan peradaban umat manusia, saat ini bangsa barat (Eropa dan AS) adalah aktornya. Kemajuan teknologi, keilmuan, kebudayaan, dan kemiliteran semua dikuasai barat. Berbanding terbalik dengan negara-negara muslim khususnya timur tengah dan afrika utara, umat muslim berada pada kondisi terpuruk. Bahkan hinga saat tulisan ini dibuat, masing berlangsung kekacauan di Timur tengah dan Afrika Utara, khususnya Libya, suriah, dan Bahrain. Ada data-data menarik yang berhasil dihimpun mengenai kondisi negara-negara diseluruh dunia yang berkaitan dengan kondisi saat ini. Data-data tersebut dihimpun oleh NGO internasional yang begerak di bidang kebesan berdemokrasi. NGO tersebut adalah Freedom House dan EIU(Economist Intelgence Unit).

Laporan dari Freedom house menyebutkan bahwa Dunia saat ini terbagi menjadi tiga Kategori didasarkan pada kebebasan yang diterapkan di negara-negara tersebut. Kategori (1) adalah Negara Bebas (Free Country), Kategori (2)  Separo Bebas (Partly Free Country), dan Kategori (3) Tidak Bebas (Not Free Country). Negara bebas adalah negara yang menerapkan kebebasan berpendapat, pers, dan independen. Negara separo bebas adalah yang pada negaranya masih ada beberapa hal mengenai pendapat dikontrol pemerintah, tidak sepenuhnya bebas. Negara Tidak Bebas adalah yang tidak memberi celah kebebasan berpendapat pada rakyatnya, semua dikontrol pemerintah.  Hal menarik untuk dianalisis adalah bahwa dari 19 negara muslim yang berada di Timur tengah tidak ada satupun yang masuk kategori (1). Hanya ada dua negara yang masuk kategori (2) yaitu Turki dan Yordania, sisanya masuk kategori (3). Kemudian dari sejumlah 57 negara-negara OKI, yang termasuk kategori (1) hanya 5 negara (termasuk Indonesia).

Laporan selanjutnya adalah dari EIU. Menurut data yang dikumpulkan lembaga ini, negara-negara di dunia dibagi menjadi empat kategori. Kategori (1) adalah demokrasi penuh,

Kategori (2) adalah Demokrasi Cacat, Kategori (3) Demokrasi Campuran, dan Kategori (4) adalah otoriter. Pada 19 negara islam di Timteng, 15 negara masuk kategori otoriter, sisanya demokrasi campuran. Pada 57 negara OKI, tidak ada satupun yang demokrasi penuh, tercatat hanya 6 negara yang demokrasi cacat.

Menurut data-data lain yang dihimpun dari berbagai sumber disebutkan bahwa setelah kemunculan system demokrasi di AS dan Eropa, negara-negara lain turut menurut menerapkan sistem ini. Kecuali pada negara-negara muslim, sistem demokrasi sulit diterapkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa negara-negara barat sengaja memelihara rezim-rezim otoriter di timur tengah agar tetap berkuasa. Walaupun secara kasat mata rezim-rezim otoriter di timur tengah kurang bersahabat dengan Barat.

Alasannya, dengan memelihara rezim-rezim tersebut, barat dapat mengeruk kekayaan minyak untuk sumber energi mereka. Selain itu, ruang gerak organisasi-organisasi Islam yang tumbuh di negara-negara timur tengah dapat dibatasi. Inilah poin pentingnya, barat sangat takut terhadap organisasi-organisasi Islam. Dengan tumbuhnya islam akan mengancam peradaban kapitalis yang menjadi dasar kemajuan barat, untuk itu harus dibatasi.

Dengan data-data yang terpapar sedemikian rupa, umat islam harus sadar bahwa tidak selamanya demokrasi itu buruk. Kebenaran islam hanya dapat disebarkan jika dakwah tidak dibatasi ruang geraknya. Demokrasi memang membebaskan semua orang berpendapat dan berekspresi, baik orang baik maupun orang jahat. Untuk itu yang harus dibangun adalah semangat berkompetesi. Umat islam harus memiliki strategi dakwah yang efesien dan cepat sehingga tidak kalah cepat dengan golongan-golongan yang memusuhi islam. Kesempatan tersebut hanya didapat jika suatu negara membebaskan warganya untuk berpendapat dan berekspresi. Demokrasi bukanlah sebuah tujuan akhir   tujuan akhir umat muslim hendaknya adalah menuju Era kelima masa kepemimpinan islam sebagaimana Dalam sebuah Hadits Marfu’ Riwayat Imam Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir, Nabi bersabda setidak-tidaknya ada 5 fase yang akan dilalui oleh umat Islam selama hidup didunia, fase pertama yaitu fase kenabian (manhaj Nubuwwah), Fase kedua kekhalifahan (manhaj Nubuwwah), Fase Raja-raja yang menggigit / Mulkan aa’dzon (sistem kesultanan), Fase keempat yaitu Pemimpin yang dzholim / Mulkan jabariyan (sekuler, kapitalis)dan fase Kekhalifahan Islam (Manhaj kenabian).

Posted in tulisan | Leave a comment

produksi Xilitol dari Limbah…?

Xilitol, produk yang saat ini populer di masyarakat. Sering digunakan sebagai pemanis pada berbagai produk makanan karena memiliki banyak keunggulan dibanding bahan pemanis lain. Xilitol merupakan gula berkarbon 5 yang tidak dapat difermentasi oleh bakteri S. mutans penyebab kerusakan gigi, sehingga bersifat nonkariogenik yang aman untuk kesehatan gigi (Uhari et al. 1996; Sampaio et al. 2003).Xilitol memiliki sifat-sifat antara lain: mudah larut dalam air, tahan terhadap panas sehingga tidak mudah mengalami karamelisasi, memberikan sensasi dingin seperti mentol (Ahmed 2001). Satu lagi keunggulannya adalah aman dikonsumsi bagi penderita diabetes yang yang sangat bergantung pada insulin karena gula ini dapat dimetabolisme tubuh tanpa kehadiran insulin(Emodi 1978).

Produksi xiilitol secara komersial memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan hasil yang rendah. Prinsip pembuatannya adalah hidrolisis xilan ( polisakarida ) yang biasa diambil kayu Birk dengan asam. Hasilnya adalah gula xilosa yang selanjutnya dihidrogenasi menjadi xilitol. Dengan cara ini, harga xilitol cukup mahal. Pada tahun 2001 kebutuhan xilitol dunia adalah 40000 ton dengan nilai sekitar 250 miliar rupiah, sekitar Rp. 7000,- per Kg. ini adalah biaya produksi, tentunya harga dipasaran akan lebih tinggi. saat ini mungkin harganya sudah naik lebih tinggi lagi.

Untuk menekan biaya produksi, dikembangkan cara baru memproduksi xilitol, yaitu dengan memanfaatkan mikroba. Prinsipnya adalah dengan memfermentasi gula xilosa dengan khamir.Hasil penelitian Gong et al. (1981) yang membandingkan 10 spesies khamir menemukan bahwa C.tropicalis adalah penghasil xilitol terbaik, hasil yang sama juga diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Barbosa et al. (1988), yang menggunakan 44 spesies khamir yang berperan dalam biokonversi xilosa menjadi xilitol, dan menyatakan bahwa C.guilliermondii dan C.tropicalis sebagai penghasil xilitol terbaik.

Persoalan yang muncul dengan adanya metode baru tersebut adalah penyedian substrat khamir berupa xilosa murni yang mahal. Dengan diketahuinya kandungan xilan pada beberapa limbah pertanian dan perkebunan, maka biaya produksi akan lebih murah. Limbah yang dimaksud adalah tongkol jagung, limbah tetes tebu, dan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Limbah-limbah tersebut memiliki kandungan xilan yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk bahan baku produksi gula xilitol. Khusus untuk TKKS, limbah ini sangat banyak jumlahnya, bahkan jika dibuat perhitungannya, produksi xilitol dari limbah ini dapat menutupi kebutuhan xilitol dunia.

Perkebunan Indonesia tiap tahun menghasilkan rata-rata 20  ton tandan buah segar (TBS) per Ha.luas area perkebunan sawit indonesia adalah 7.9 juta Ha, jadi produksi TBS tiap tahun adalah 7.9 juta x 20 ton = 158 juta ton. Pada produksi minyak sawit,tiap TBS menghasilkan TKKS sebanyak 22%, jadi jumlah TKKS tiap tahun 158 juta ton x 22/100 = 34,76 juta ton. Ekstraksi TKKS menghasilkan 28% hemiselulosa, maka jumlah hemiselulosa adalah 34.76 juta ton x 28/100= 9.732.800 ton. Hemiselulosa diekstraksi menghasilkan  xilan yang bila dihidrolisis dengan asam menghasilkan (±) 33%  xilosa, jumlah xilosa adalah 9.732.800 ton x 33/100 = 3.211.824 ton. Xilosa kemudian dijadikan substrat fermentasi khamir Candida tropicalis dengan konsentrasi 70 g /L dihasilkan 14.08 g/L  xilitol atau sebanyak 20% dari xilosa. Maka jumlah xilitol adalah 3.211.824 ton x 20/100 = 624.364,8 ton tiap tahunnya. Luar biasa bukan……

Dapus

Ahmed Z. 2001. Production of natural and rate pentoses using microorganisms and their enzymes.

Electronic Journal of Biotechnology 4:2.

Barbosa MFS, Medeiros MB, Mancilha LM, Schneider H, Lee H. 1988. Screening of yeast for production

of xylitol from D-xylose and some factor which affect xylitol yield in Candida guillirmondii. J

Ind Microbial 3: 241-251

Emodi A. 1978. Xylitol its properties and food applications. Food Technol 32: 20-32.

Gong CS, Chen LF, Tsao GT. 1981. Quantitative production of xylitol from D-xylose by a high xylitol

producing yeast mutant Candida tropicalis HXP2. Biotechnology Letters 3: 130-135.

Sampaio et al. 2003. Screening of filamentous fungi for production of xylitol from D-xylose. Brazilian

Journal of Microbiology 34: 325-328.

Uhari M, Kontiokori T, Koskela M, Niemela M. 1996. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis

media: double blind randomized trial. Br Med J 313: 1180-1184.

Posted in Academic | 1 Comment

Assalamualaikum

Mahasiswa Rantau

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan kampung halamanmu dan merantaulah

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika didalam hutan,

(disadur dari imam syafi’i)

Posted in Academic | 1 Comment